- Diposting oleh : latihan blog
- pada tanggal : Juli 27, 2026
Acara dibuka secara resmi oleh Kaprodi PBA, Abdul Basith, M.Pd. Dalam sambutan pembukaannya, ia menekankan bahwa dunia akademik dan profesional kini menuntut lebih dari sekadar penguasaan teks-teks klasik. “Kita bangga dengan tradisi keilmuan pesantren yang kuat dalam membaca kitab kuning. Namun, tantangan zaman meminta lebih. Lulusan PBA harus mampu menaklukkan Al-Ashriyah: teks-teks Arab modern yang berseliweran di media massa, jurnal ilmiah internasional, pidato politik, hingga laporan ekonomi. Di sanalah letak relevansi kita. Jika kita lambat memahami teks modern, kita akan tertinggal dari peradaban yang berbahasa Arab,” tegas Abdul Basith di hadapan peserta. Ia pun mengapresiasi inisiatif HMPS PBA yang dinilainya visioner dalam merancang kurikulum non-formal berbasis kebutuhan mutakhir mahasiswa.
Ketua panitia, Alfan Fauzi, dalam sambutannya menyuarakan kegelisahan yang menjadi latar belakang lahirnya workshop ini. “Dari diskusi dengan teman-teman, banyak yang merasa frustrasi ketika dihadapkan pada satu paragraf berita dari situs seperti Al-Jazeera atau BBC Arabic. Struktur kalimatnya panjang, kosakatanya asing, dan penuh idiom yang tidak kita temui di kitab kuning. Padahal, sebagai mahasiswa bahasa Arab, kita seharusnya menjadi garda terdepan dalam memahami informasi langsung dari sumbernya. Workshop ini kami racik khusus untuk memutus rantai kelambanan itu, memberikan strategi jitu agar teman-teman mampu menerjemah secara cepat, tepat, dan percaya diri,” ujar Alfan Fauzi dengan nada optimistis.
Narasumber utama, Sholeh Mubarok, S.Pd., S.Ag., adalah figur yang tepat untuk membedah persoalan ini. Berpengalaman sebagai penerjemah dan pengajar bahasa Arab, ia membuka sesi dengan pemantik yang menggugah: “Al-Ashriyah bukan monster yang harus ditakuti. Ia adalah organisme hidup yang terus berevolusi. Masalahnya, banyak pembelajar mendekatinya dengan mental kamus, bukan mental pemburu makna.” Sholeh Mubarok lantas memaparkan bahwa akar lambatnya penerjemahan teks modern terletak pada kebiasaan menerjemahkan secara linear dan harfiah. “Kita sering terpaku menerjemahkan setiap kata secara berurutan, padahal otak kita sebenarnya mampu memproses secara paralel. Teks modern, khususnya berita, memiliki pola piramida terbalik: ide pokok selalu di depan. Temukan subjek dan predikat utama, abaikan dulu kata-kata penghias, maka 60 persen pekerjaan selesai,” jelasnya. Sholeh Mubarok menegaskan bahwa kunci utama menerjemah teks modern adalah keberanian menangkap ide pokok tanpa terpaku pada makna harfiah yang kaku. “Teks modern itu hidup dan bernapas. Jika kalian terjebak menerjemahkan kata per kata, kalian akan kehilangan ruh konteksnya. Gunakan teknik scanning dan skimming visual untuk memetakan struktur berita, lalu tangkap kosakata kunci,” tuturnya memandu peserta.
Suasana Aula Al Haramain berubah menjadi laboratorium bahasa yang hidup. Peserta yang terbagi dalam kelompok-kelompok kecil langsung diuji dengan simulasi menerjemahkan cuplikan berita aktual dalam waktu tiga menit. Sholeh Mubarok berkeliling mengoreksi, memberikan trik cepat mengenali struktur jumlaḥ ismiyyaḥ dan fi’liyyaḥ yang diperluas, serta mengidentifikasi kata sambung yang menjadi penanda logika teks. Gelak tawa kerap muncul ketika ia mencontohkan kesalahan klasik menerjemahkan idiom secara literal, seperti al-ṭarīq al-sayyār yang bukan berarti “jalan berjalan” melainkan “jalan tol”.
Salah seorang peserta, Rizky Ramadhan, mahasiswa semester 2, mengungkapkan kesannya. “Ini benar-benar membuka mata. Selama ini saya pikir kunci kecepatan adalah banyaknya hafalan kosakata. Ternyata, strategi memilah dan membuang informasi sekunder di awal itu jauh lebih dahsyat. Saya merasa langsung upgrade skill hari ini,” katanya. Senada, Siti Nurhaliza, peserta semester tiga, menambahkan bahwa ia kini tidak lagi gentar membuka berita Arab. “Dulu saya langsung stres lihat teks panjang. Sekarang saya tahu apa yang harus dicari duluan. Rasanya seperti punya peta di tengah hutan,” ujarnya.