Skip to Content
Loading...
Official UIMSYA
Official UIMSYA
Online
Halo 👋
Ada yang bisa dibantu?

Tantangan Nyata di Lapangan: Menguasai "Ammiyah" demi Skill Mendengar dan Berbicara yang Autentik

 

Bagaimana penguasaan dialek lokal (Ammiyah) menjadi penentu kesuksesan kerja para profesional Indonesia di dunia Arab? Simak kisah mereka yang melewati "keterkejutan bahasa" di luar kelas.

JEDDAH, Arab Saudi — Selama enam bulan pertama penugasannya di Jeddah, Ahmad Fauzi (35), seorang insinyur proyek konstruksi, merasa seperti menghadapi tembok yang tak terlihat. Meski lulusan Sastra Arab dengan nilai tinggi dan mahir membaca kitab gundul, dia kerap bengong saat mendengar obrolan cepat antara mandor dan pekerja lapangan. "Saya paham kata per kata dalam buku, tapi saat mereka bicara dengan dialek Mesir-Sudan campur logat Hijaz, seakan-akan otak saya lag. Negosiasi harga material pun jadi tarik-ulur karena saya harus minta mereka mengulang dengan bahasa yang lebih formal," cerita Ahmad kepada kami via panggilan video.

Ahmad adalah satu dari banyak profesional Indonesia (mulai dari diplomat, pekerja kemanusiaan NGO, hingga eksekutif bisnis) yang menghadapi kenyataan pahit: penguasaan sempurna atas bahasa Arab Fusha (Modern Standard Arabic) ternyata belum cukup. Di lapangan, kunci keberhasilan justru terletak pada dua keterampilan yang sering diabaikan di bangku kuliah: mendengar (istima') dan berbicara (kalam) dalam dialek sehari-hari atau 'Ammiyah.

Dilema Fusha vs. Ammiyah: Dua Dunia yang Berbeda

Fusha adalah bahasa resmi media, akademik, dan dokumen. Ia seragam di seluruh dunia Arab. Sementara 'Ammiyah adalah bahasa hidup yang berdenyut di pasar, kantor non-formal, rumah, dan percakapan di jalan. Dialeknya berbeda tajam antara Maroko, Mesir, Lebanon, dan Teluk.

"Saya sering bilang, mempelajari Fusha saja itu seperti hanya belajar bahasa Indonesia yang baku dari buku tanpa pernah mendengar orang Jakarta, Medan, atau Surabaya ngobrol asli," jelas Dr. Laila Mahdiyah, ahli sosiolinguistik Arab. "Untuk berintegrasi, membangun kepercayaan, dan menangkap nuansa, Anda harus turun ke level 'Ammiyah. Skill mendengar menjadi garda terdepan. Jika Anda tidak bisa memahami apa yang dikatakan dengan cepat, komunikasi praktis langsung mandek."

Tantangan Mendengar di Medan Riil

Bagi Sari Dewi (29), staf program sebuah NGO internasional di Yordania yang sering turun ke kamp pengungsi Suriah, tantangan terbesarnya adalah "telinga" yang belum terlatih.

"Pengungsi dari Dara'a, Suriah, bicara dengan dialek dan aksen yang sangat kental, ditambah dengan kondisi emosional yang kadang membuat mereka berbicara sangat cepat. Skill istima' saya diuji. Saya harus bisa menangkap bukan hanya kata, tetapi juga tekanan emosi, keluhan yang terselip, dan kebutuhan yang tidak terucap secara formal. Kalau hanya mengandalkan Fusha, interaksi terasa kaku dan jauh," ujarnya.

Ia mengakui, bulan-bulan awal diisi dengan rasa frustasi. "Saya banyak mengandalkan gesture dan senyum. Tapi lambat laun, telinga mulai terbiasa. Kuncinya adalah total immersion—terjun langsung, jangan malu, dan banyak mendengarkan percakapan alami, bahkan dari obrolan di warung kopi atau percakapan di serial drama Yordania."

Dari Mendengar ke Berbicara: Membangun Koneksi Manusiawi

Puncak dari penguasaan mendengar adalah kemampuan merespons dengan berbicara. Di sinilah skill kalam yang kontekstual menjadi penentu.

Rizki Ananda (42), Business Development Manager untuk pasar UAE dan Saudi, membagikan pengalamannya. "Klien Arab sangat menghargai usaha kita memahami budaya mereka. Saat saya mulai bisa menyelipkan ungkapan-ungkapan khas Teluk seperti 'yalla' (ayo), 'insyaallah' (dengan senang hati, dalam konteks bisnis), atau 'mabrook' (selamat), suasana meeting langsung cair. Itu bukan sekadar translate dari bahasa Inggris, tapi menunjukkan bahwa kita berusaha masuk ke worldview mereka."

Menurutnya, deal-deal besar seringkali lahir bukan di meja rapat resmi yang penuh dengan Fusha, tetapi di majelis kopi (majlis al-qahwa) dimana percakapan mengalir dalam dialek lokal yang penuh idiom dan humor. "Di situlah kepercayaan dibangun. Dan Anda tidak bisa mengandalkan translator setiap saat untuk setting informal seperti itu," tegas Rizki.

Bagaimana Mempersiapkan Diri?

Para profesional ini memberikan tips bagi yang ingin mempersiapkan diri:

  1. Supplement Fusha dengan Ammiyah Target: Tentukan negara tujuan, lalu pelajari dasar-dasar dialeknya melalui kursus online, channel YouTube, atau aplikasi spesifik.

  2. Latih Telinga dengan Konten Asli: Dengarkan podcast lokal, tonton serial TV (musalsalat) negara tersebut, dan dengarkan lagu-lagu populer. Fase awal, gunakan subtitle Arab (Fusha atau dialek) untuk memetakan perbedaannya.

  3. Cari "Language Buddy": Cari mitra bahasa asli dari daerah tersebut, fokus pada percakapan daring secara rutin. Ajak mereka mengoreksi pelafalan dan penggunaan idiom Anda.

  4. Jangan Takut Salah: Langsung praktik saat tiba di lapangan. Orang Arab biasanya sangat apresiatif terhadap orang asing yang berusaha bicara dalam logat mereka, meski masih belepotan.

Kesimpulan: Bahasa adalah Jembatan, Buku dan Telinga adalah Penopangnya

Kisah Ahmad, Sari, dan Rizki menunjukkan bahwa di era globalisasi, kemampuan berbahasa Arab tidak lagi sekadar soal menerjemahkan teks. Ia adalah tentang ketahanan mendengar dalam kebisingan percakapan dunia nyata dan keberanian berbicara dengan bahasa yang hidup. Penguasaan Fusha tetap menjadi fondasi yang kokoh untuk pemahaman struktur dan literasi tinggi. Namun, mengasah istima' dan kalam dalam 'Ammiyah-lah yang mengubah pengetahuan akademis menjadi jembatan emosional dan profesional yang efektif.

"Pada akhirnya," tutup Dr. Laila, "bahasa adalah alat koneksi manusia. Dan koneksi paling dalam seringkali terjadi dalam bahasa ibu - dalam hal ini, dialek keseharian mereka."

Berbagi

Postingan Terkait

Posting Komentar

Konfirmasi Penutupan

Apakah anda yakin ingin menutup pemutaran video ini?